Posted by Priyono on Dec 8, '08 12:28 AM for everyone Halo, Satu diantara banyak hal yang tak pernah stabil di negeri ini adalah harga. Yang tampak jelas, dan tentu saja dialami begitu nyata, adalah kecenderungannya untuk naik terus gara-gara imbas kenaikan harga BBM, terutama yang berkaitan dengan bahan-bahan pokok. Bayangkan, tahu dan tempe, yang menjadi santapan sumber protein di sebagian besar rumah tangga, bahkan sempat kacau pasokannya gara-gara harga kedelai, bahan baku utamanya, melambung tinggi. Kenaikan harga-harga itu tentu berpengaruh terhadap pola belanja sebagian besar masyarakat. Prioritas menjadi kata kunci; daftar belanjaan mesti diseleksi. Mereka bahkan harus menyeleksi kembali urutan-urutan di kategori bahan pokok; yang masih punya ruang bisa mengganti satu jenis kebutuhan menjadi jenis yang lain yang lebih murah, sedangkan mereka yang sudah biasa mengkonsumsi jenis yang paling bawah….yah, entah mesti menggantinya dengan apa. Buku, dalam situasi serupa itu, tentu anjlok posisinya. Bisa jadi malah dilupakan. Mana bisa orang mendapatkan celah untuk menyisihkan uang demi belanja buku? Tetapi hal itu tak mengubah apa yang telah berlaku: bahwa buku tetap harus dibaca, dan pasti terus diproduksi, dan bahwa minat baca yang sudah terlanjur berkembang—seberapa pun lajunya, seberapa pun terbatasnya—mustahil dibiarkan merana, atau mungkin juga mati lagi. Tidak usahlah disebutkan di sini manfaat buku dan membacanya, bagi perorangan maupun masyarakat (dan negara) secara keseluruhan. Pertanyaannya, bagaimana supaya kedua hal itu bisa tetap dipertemukan? Yang paling mudah tentunya dengan mengaktifkan Perpustakaan Publik, entah itu milik pemerintah ataupun dermawan yang peduli dengan pendidikan universal. Bahkan sekarang muncul tren Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang menjamur hampir di setiap kecamatan. Namun inipun tak efektif, banyak TBM-TBM yang hanya mengandalkan ‘blockgrand’ dari pemerintah karena money oriented akhirnya ‘gugur’ ketika sudah tidak ada lagi yang namanya ‘bantuan’. Sedikit sekali yang tetap eksis, kebanyakan tinggal papan nama saja sedangkan aktifitasnya tidak ada. Alasan klasik yang menjadi salah satu ‘bergugurannya’ TBM-TBM itu adalah koleksi bukunya yang terbatas dan sedikit sekali bahkan nyaris tidak ada buku-buku dengan predikat best-seller atau buku-buku yang sedang hangat dibicarakan. Mengaktifkan agar Taman Bacaan Masyarakat ini agar terus hidup tentu perlu biaya. Sementara anak-anak dan masyarakat sekitar sudah mulai menuntut ingin buku-buku yang lebih bervariasi, terutama Ensiklopedi Anak, Sains Untuk Anak, Cerita Rakyat /Dongeng dan buku-buku Pelajaran anak SD. Untuk menambah koleksi dengan buku-buku mutakhir, mestinya bisa ditempuh jalan lain selain mendapat ‘blockgrant’ dari pemerintah tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar, yaitu dengan kampanye donasi. Pasti ada perusahaan yang bersedia mewakafkan sedikit saja sebagian dana dari pos Corporate Social Responsibility-nya untuk pembelian buku baru ataupun individu-individu yang ada di masyarakat yang mau menyumbangkan buku miliknya yang sudah tidak dibutuhkan demi kemaslahatan yang lebih luas. Yang mesti ada dalam kegiatan itu mestinya juga bukan syarat yang pelik, yaitu orang-orang yang, selain mencintai buku, mau bekerja sukarela. Saya pribadi bukanlah orang yang berkemampuan, kecintaan terhadap bukulah yang menggerakkan saya mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Aura Book’s ini. Sayang kan, kalau jagad pengetahuan yang tersembunyi di balik lipatan buku ini tak ‘membumi’ (down to earth) dan dibiarkan terperangkap terus di menara gading ilmu pengetahuan. Bersediakah Anda ? Sumbangkan buku anda ke : Taman Bacaan Masyarakat Aura Book,s Jl.Raya Labuan Km.11 (Simpang Tiga Ciputri ) Desa Alas Wangi,Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, 42262 Telp 0253-501579 or Hp 081911161387
Sumbangan bisa berupa buku,majalah,permainan anak-anak,komuter,uang atau apaun yang berguna Sumabangan berupa Uang bisa melalui Rekening Taman Bacaan Masyarakat Aura Book's BRI Unit Menes Labuan No. rekening 3866-01-000270-50-1
Salam Literasi,
Priyono Pengelola Posted by Priyono on Dec 8, '08 12:04 AM for everyone Buku. B-u-k-u. Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi benda kotak seberat 250 gram itu. Memikirkan kira-kira sihir apa yang dimilikinya hingga aku sampai tergila-gila. Aku berkeliling ke toko buku demi mendapatkan buku terbaik yang aku tahu sinopsisnya lewat sebuah iklan di koran, meski uangku pas-pasan. “Buku ini bagus, aku harus beli”, seperti kerasukan, aku mengambil 4 buku tebal sekaligus yang bertengger di rak buku dengan embel-embel ‘best-seller’. Dengan senyum puas aku meninggalkan kasir walau separuh dari Uangku habis terkuras. Toh, belum ada kabar berita orang jatuh miskin gara-gara beli buku, pikirku. Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti. Kebiasaanku membeli buku tak pernah berhenti, hasilnya, 1000 judul buku dari berbagai genre bertengger dengan nyaman di atas rak buku berukuran 2,5 x 2 m dari kayu mahoni yang kokoh. Mulai dari Harry Potter, Komik Naruto, sampai cerita petualangan Karl May, Winnetou (ini bacaannya Einstein sewaktu remaja lho). Ada juga buku La Tahzan,? Sampai karya hebat Eji Yoshikawa : Musashi dan Taiko Buku-buku yang kubaca pun ikut meledakkan isi kepalaku. Aku selalu terobsesi dengan hal-hal yang baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahuku kapan saja. Dan, hasil ledakkannya, aku berhasil mendirikan Taman Bacaan. Obsesiku selama 3 tahun menunggu akhirnya terwujud. Setiap kali aku membuka buku, aku sering teringat tokoh Lintang, anggota Laskar Pelangi paling jenius sekaligus miskin dari Bangka Belitong (baca tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata). Baginya, buku adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru. Jika berhadapan dengan buku, ia terisap oleh setiap kalimat ilmu yang ia baca, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, melirik maksud tersembunyi dibalik kalimat-kalimat saktinya. Dalam kehidupan Lintang yang serba terbatas, buku adalah segalanya. Dan bagiku, Lintang adalah tokoh inspiratifku yang paling gagah dan tak mudah menyerah meski nasib baik tak pernah bersimpati padanya. Jiwa, itulah yang terpenting dalam hidup, kata Gola Gong. Jiwa adanya di dalam buku. Akan tampak tak berjiwa jika kita bercakap-cakap dengan seseorang yang tak pernah membaca buku. Kering hatinya, kosong tanpa makna setiap kata yang terlontar dari jiwanya. Ah, pintar sekali pengarang favoritku ini berfilsafat. “Apa? Taman Bacaan? Jangan sok idealis, minat baca masyarakat di sini masih rendah, dan kamu bukan Yesi Gusman yang punya uang banyak yang bisa bikin ratusan taman bacaan kalau ia mau, sedangkan kamu?” Begitulah nada minor dari saudaraku. Tapi, aku tak menyerah kawan, aku memang bukan siapa-siapa. Pendidikanku tidak tinggi, kelebihanku cuma satu, suka buku dan aku tak mau kalau kepalaku cuma dijadikan ‘perpustakaan’. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, apa yang selama ini aku baca harus menjadi ‘sesuatu’. Aku sadar, aku akan mengalami kepunahan. Besok, mungkin aku masih ada disini—tetapi impianku mungkin tidak. Jadi, aku harus memanfaatkan sebaik-baiknya sisa umur pemberian Tuhan ini supaya aku tidak menjadi mahluk yang merugi. Aku malu, tak semilitan Sultan Khan, Saudagar Buku dari Kabul, sejak rezim Raja Zahir Shah sampai Taliban. Walaupun bukan muslim ideal (shalat dan puasanya bolong-bolong), ia rela mempertaruhkan hidupnya demi buku—digebukin, masuk penjara, buku-bukunya menjadi api unggun—tapi Sultan tak pernah tunduk pada penguasa (tiga perempat penduduk Afghan tidak bisa baca-tulis). Aku malu, tak seidealis Alm. Mbah Dauzan Farook (pemilik Mabulir—Yogya), diusianya yang sudah mendekati post senja, masih memikirkan buku-buku untuk ia pinjamkan sambil keliling naik sepeda. Aku malu, tak sedermawan dan segigih Mr. John Wood, yang mampu mendirikan 3600 perpustakaan di Asia. Mr. Wood rela meninggalkan kemapanan sebagai salah satu CEO di Microsoft, demi membawa pelita aksara kepada ribuan anak di dunia ketiga. Gagasan tentang ruang baca yang dinamainya Room to Read, telah mengubah bilik hening dengan ingar bingar pengetahuan. Aku malu, tak seheroik Mas Gola Gong, yang mampu memindahkan isi dunia ke dalam rumah lewat Rumah Dunia. Melalui Gerakan Banten Membaca, ia ingin mengubah stigma Banten yang lekat dengan black magic, santet dan teluh menjadi Banten Beradab dan Cerdas. Itulah kawan, sebagian Pendekar Buku yang telah menginspirasiku untuk mendirikan Taman Bacaan . Ada kalimat bijak yang aku ambil dari bukunya Pak Komarudin Hidayat, Psikologi Kematian, “Jangan membeli sesuatu yang menyulitkan kita untuk pulang ke kampung Ilahi”. Aku tak punya harta, hartaku cuma buku. Dan alangkah baiknya jika buku-buku ini juga bisa bermanfaat tidak hanya untuk diriku, tapi juga orang lain. Mungkin ini bentuk lain dari sedekah, toh sedekah tidak hanya berbentuk harta, ilmu yang bermanfaat adalah amal jariah yang akan terus mengalir walaupun sampai kematian menjemput. Aku cari-cari nama yang bagus buat Rumah Bukuku ini, akhirnya jatuh pada pilihan Taman Bacaan Masyarakat Aura Book’s”. Kenapa Aura Book’s? Aku ingin orang yang berkunjung ke Taman Bacaan ku, setelah ia melakukan kegiatan ‘membaca’, mengalami pencerahan. Seperti Archimedes yang nyemplung di bak mandi lalu keluar sambil teriak, “Eureka, eureka!” (saya temukan) Dengan semua keterbatasan yang aku miliki, aku persembahkan Taman Bacaan Masyarakat Aura Book’s ini Kawan. Bacalah buku, dan temukan jiwa Anda di sana. Menes, Oktober 2008 Priyono, Pendiri Taman Bacaan Masyarakat Aura Book’s Posted by Priyono on Dec 7, '08 11:50 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | J.K.Rowling |
Judul: Harry Potter 5: Harry Potter dan The Order of The Phoenix Penulis: JK Rowling Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tanggal Terbit: Januari 2004 Kategori: Sci-Fi & Fantasi Tak diragukan lagi tahun kelima Harry Potter bersekolah di Hogwarts merupakan tahun yang sangat penting. Kini ia berusia lima belas tahun, dan sebagai remaja ia mengalami gejolak masa muda yang mengubah beberapa sifat dasarnya. Ia akan menjalani ujian OWL yang menegangkan, yang menentukan akan jadi apa dirinya setelah lulus. Ia sering sekali bertengkar dengan Cho, sehingga bukan tidak mungkin hubungan mereka putus. Dan ketika ia berkelahi dengan Draco Malfoy, peranannya sebagai Seeker tim Quidditch Gryffindor terancam. Semua ini membuat Harry begitu nelangsa, sehingga untuk pertama kalinya ia ingin sekali meninggalkan Hogwarts. Di tengah semua kegalauan itu, Lord Voldemort dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa terus-menerus menghantui Harry. Tanpa henti Pangeran Kegelapan menyiksanya melalui bekas lukanya, dan akhirnya memaksa Harry bertarung mati-matian melawan para Pelahap Maut. Dan puncaknya adalah ia harus menyaksikan kematian seseorang yang amat dicintainya… jika ada yang mau ebook gratis Harry Potter and orde the phoenix versi bahasa indonesia ini linknya : http://www.ziddu.com/download/2224447/hp5_theorderofthephoenix_indo_pdf.rar.html Posted by Priyono on Dec 7, '08 11:38 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | J.K.Rowling |
Judul : Harry Potter and The Deathly Hallows Oleh : J.K. Rowling Isi : 1008 halaman Ukuran : 20 cm Cetakan : I, 2008 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta ISBN-10 : 979-22-3348-2 ISBN-13 : 978-979-22-3348-3 Buku ketujuh diawali dengan Voldemort dan para Pelahap Mautnya di rumah Lucius Malfoy, yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts, atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri. Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore; dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang pembenci non-penyihir dan telah membunuh banyak Muggle, dan meninggal di Penjara Azkaban atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry. Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya; Mad-Eye Moody dibunuh oleh Voldemort sendiri. Belakangan, Harry mendapatkan penglihatan mengenai pelariannya; tongkat sihirnya telah bereaksi dengan tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi. Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Delumintaor untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan, karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur Delacour dan Bill Weasley. Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa inisial R.A.B. pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher, mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika Regulus merasa kecewa dengan Dumbledore, ia memerintahkan Kreacher untuk kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang pals.u. Regulus terbunuh dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan memberikannya kepada Dolores Umbridge. Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat lama tinggal di suatu tempat. Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah pals.u, dan ada yang melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry dan Hermione kemudian pergi ke Godric’s Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana. Di Godric’s Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric’s Holow, mereka juga menemui Bathilda Bagshot, seorang kawan lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore. Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena “Bagshot” itu merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu. Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan. Ia menyelam ke dalamnya dan mendapati pedang dan kalung liontin Horcrux Voldemort. Kalung itu mencoba mencekik Harry dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu. Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood, dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry, Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan benda sihir sebagai hasilnya - tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand—tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone—batu kebangkitan), dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan ketiga benda sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort. Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap dan dibawa ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor, karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron dan Harry. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix. Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Ia berusaha untuk mencegah Voldemort mengambilnya dari makam Dumbledore. Dibantu Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gingrott’s. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan mencuri pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri, tetapi Voldemort menyadari bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya. Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara ceroboh, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Setelah menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota Ravenclaw tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan benda itu dihancurkan. Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk mentransfer kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam sekaratnya, Snape memberikan memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape berada di sisi Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Tapi alih-alih membunuh Harry, kutukan itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Pada akhirnya, setelah Nagini dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kadavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri oleh Elder Wand. Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius kereta api King’s Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan. seru banget bukunya,jika mau ebook harry Potter deathly Hallows versi bahasa indonesia ini link nya : http://www.ziddu.com/download.php?uid=bLGgmJipZqyb4palY7KWlJeiY6uanZ0%3D3 Posted by Priyono on Dec 7, '08 10:52 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Eiji Yoshikawa |
Musashi Judul : Musashi Penulis : Eiji Yoshikawa Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2001 Tebal : 1248 Halaman Jenis : Fiksi Cerita dimulai dari keadaan setelah pertempuran Sekigahara. Saat itu dapat dianalogikan sebagai saat Musashi dalam kandungan. "Janin" tersebut masih bernama Takezo. Seorang samurai kalah perang yang harus menjalani hidupnya sebagai ronin. Adalah Takuan yang bertindak sebagai bidan yang membidani kelahiran Musashi. Gemblengan Takuan merupakan proses yang harus dijalani Musashi setelah "kelahirannya". Takuan adalah guru sekaligus orang tua bagi Musashi. Musashi menjalani masa pendidikan dasarnya dibimbing Takuan. Memasuki jalan pedang merupakan pendidikan lanjutan yang harus dijalani Musashi sebagai konsekuensi yang harus ditanggung atas keputusan yang diambil. Eiji seperti ingin menggambarkan keberpihakannya pada ketekunan dan kesabaran dibandingkan pada kejeniusan dan tinggi hati. Karakter Musashi yang sangat tekun dan sabar dalam melakoni jalan hidupnya sebagai ronin yang menempuh Jalan Pedang digambarkan sangat bertolak belakang dengan karakter Sasaki Kojiro yang Jenius tetapi tinggi hati. Bahkan kita seperti dapat melihat betapa sederhananya Musashi dibandingkan Kojiro yang "high profile" lebih baik baca langsung aja bukunya dijamin pasti akan terpesona jika ada yang mau ebooknya ,ini linknya : http://www.4shared.com/file/55939016/a6fd5350/Eiji_Yoshikawa_-_Musashi__Indonesia__01-14.htmlselamat menikmati ya  Posted by Priyono on Dec 4, '08 5:43 AM for everyone
Posted by Priyono on Oct 29, '08 1:05 AM for everyone | Start: | Oct 23, '08 02:00a | | End: | Nov 2, '08 |
Belajar Internet gratis sampe bisa di Taman Bacaan Masyarakat Aura Books alamat : Jl.Raya Labuan Km.11 (Simpang 3 ciputri) Menes Kab.Pandeglang Propinsi Banten Posted by Priyono on Sep 10, '08 10:10 PM for everyone
Posted by Priyono on Aug 12, '08 7:10 AM for everyone | 14 tombo ati | | album | | artist | | | White Flag - Dido | | | | | |
| |